Rahmad Hidayat, pemain muda kelahiran Medan, 10 Maret 1991 ini menjadi
salah satu pemain yang cukup ramai diperbincangkan pecinta sepakbola
Indonesia, khususnya PERSIB. Karier sepakbola gelandang serang yang
besar bersama Pro Duta FC ini menjadi pemain yang dinilai cukup cepat.
Anak pertama dari dua bersaudara ini, sebelum bergabung dengan Maung
Bandung sekarang, sempat dibidik oleh pelatih Djadjang Nurdjaman pada
musim 2015. Namun, karena berbagai kendala akhirnya Rahmad pun memilih
Persipasi Bandung Raya (PBR) dan baru dapat dibawa oleh Dejan Antonic ke
PERSIB saat ini.
Bagaimana perjuangan putra sulung Fahrizal dan Hawa ini meraih prestasi
tersebut, berikut petikan wawancara di Lapangan Universitas Pendidikan
Indonesia (UPI), Jumat (29/1/2016).
Bagaimana mengawali karier sepakbola?
Pertama masuk SSB Putra Muda di Medan. Dari sana saya ke Akademi Medan
United, kemudian saya gabung ke Pro Duta di Yogyakarta kemudian Pro Duta
Medan. Saya cukup lama di Pro Duta dari tahun 2011-2014. Sempat main di
Medan Chiefs tahun 2011 sebelum ke Pro Duta.
Setelah itu baru ke PBR (Persipasi Bandung Raya sekarang Madura United)
musim 2015, dan musim ini bersama PERSIB. Kalau timnas, di Tim Nasional
U-21 dan Tim Nasional U-15.
Bagaimana dukungan keluarga untuk karier?
Keluarga saya tidak ada yang bermain bola, tapi mereka suka sepakbola.
Ayah suka memberi saya motivasi untuk terus berlatih. Saya punya saudara
adik tapi cewek, dan keluarga tidak ada yang main bola.
Saya sering diajak lari pagi setelah salat subuh sebelum berangkat
sekolah. Pulang sekolah langsung latihan, dan lari lumayan jauh. Itu
harus setiap hari. Ayah saya kasih motivasi bagus. Harus lari setiap
hari. Saya merasa capek sih, tapi saya suka dan hobi sepakbola. Jadi
saya lupakan capek itu.
Cita-cita sejak kecil, sebenarnya ingin jadi apa?
Saya sejak kecil bercita-cita jadi pesepakbola, karena saya kurang
pintar di sekolah. Saya mencoba fokus salah satu bidang, saya pilih
sepakbola dan mendalaminya. Orang tua juga mendukung. Saya senang
sepakbola sejak kecil, lingkungan di rumah juga kental sepakbola.
Sekarang di PERSIB, saya tidak menjadikan beban di usia muda, tapi
motivasi. Dulu memang sudah punya tekad masuk tim besar dan saya
bersyukur tercapai. Tapi, kalau pengganti Makan Konate, saya merasa
berat sekali. Dia pemain bagus, tapi bisa jadi motivasi.
Siapa pemain idola di Indonesia dan luar negeri?
Firman Utina dan Mesut Ozil. Ia pemain bagus punya tendangan dan sosok
yang bagus. Suka saya gaya bermain mereka. Mereka main simpel. Firman
Utina juga top sepakbola Indonesia.
Momen paling dikenang?
Main bareng Inter Milan saat Timnas U-21. Itu tahun 2012 kalau tidak
salah. Saya main pengganti, tapi itu pengalaman pertama yang saya suka.
Lama bersama pelatih Dejan Antonic, seperti apa sosoknya?
Ia pelatih bagus, ia suka pemain muda, motivasi bagus dan percaya kepada
pemain. Di Pro Duta sama pelatih asing dari Bulgaria, trus Dejan masuk
di Pro Duta (ganti pelatih Bulgaria) juara IPL (Play off IPL Pro Duta vs
Persipar 2012-2013)
Ada harapan di PERSIB?
PERSIB tim juara, tim besar. Penonton luar biasa jadi aku harus kasih
yang terbaik untuk bobotoh PERSIB, dan kepercayaan Dejan itu terpenting.
http://www.persib.co.id/berita-persib-bandung/interview/rahmad_bersinar_diusia_muda.aspx
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar